Adiwarman A.Karim

Gambar

 

“Menteri Ekonominya Mesti Paham Ekonomi Syariah,” kata Adiwarman
dalam rubrik Figur majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2003. Apa
maksudnya? Silakan ikuti wawancara kami dengan mantan Wakil Direktur
Bank Muamalat Indonesia (BMI) ini.

 

“Besok sepatu ketnya harus ganti, karena sekarang Anda bukan
mahasiswa lagi,” kata seorang pejabat Bank Muamalat Indonesia (BMI)
kepada seorang karyawan baru. “Juga jenggotnya dipotong,” kata pejabat
itu lagi. Memang jenggot pemuda itu panjang terurai, sebuah tampilan
yang bertentangan dengan dunia perbankan yang necis dan kelimis.
“Enggaklah. Lebih baik tidak bekerja di sini daripada suruh potong,”
kata pemuda itu menolak.

Syukurlah, pejabat itu bisa memahami.
Andaikan tidak, mungkin dia akan menyesal, sebab pemuda itu ternyata
sangat berpotensi. Terbukti, kelak, bukan saja pemuda itu menjadi orang
penting di BMI —jabatan terakhirnya Wakil Presiden Direktur— tapi juga
punya peran besar dalam membangkitkan dan mengembangkan perbankan
syariah di Indonesia.

Pemuda itu bernama Adiwarman Azwar Karim, yang kini dikenal sebagai satu dari sedikit ahli perbankan syariah di Indonesia.

Kontribusi
Adi (39), begitu laki-laki tinggi semampai ini biasa dipanggil, dalam
pengembangan perbankan dan ekonomi syariah di Indonesia bukan saja
sebagai praktisi. Tapi juga sebagai intelektual, antara lain menjadi
dosen tamu di sejumlah perguruan tinggi ternama seperti UI, IPB, Unair,
IAIN Syarif Hidayatullah dan sejumlah perguruan tinggi swasta. Kuliah
yang diberikan apalagi kalau bukan tentang perbankan dan ekonomi
syariah.

Anggota Dewan Syariah Nasional MUI ini juga ikut
terlibat dalam mempersiapkan UU Perbankan Syariah yang kini sedang
digodok pemerintah.

Presiden Direktur Karim Busines Consulting
yang juga kolumnis ini yakin perkembangan ekonomi Islam ke depan makin
cerah. Yang perlu kita lakukan sekarang, katanya, melakukan
percepatan-percepatan. Salah satu hal penting yang mesti dilakukan
adalah mempengaruhi pemerintah agar dukungannya lebih besar lagi kepada
pengembangan ekonomi Islam. Bahkan ia berobsesi, “Saya ingin orang yang
menjadi menteri ekonomi kelak, orang yang sangat paham ekonomi
syariah,” katanya.

Bagaimana langkah-langkah percepatan itu
dan bagaimana sosok sebenarnya dari `pejuang’ ekonomi Islam ini? Di
sela-sela simposium internasional Ekonomi Islam di Hotel Hyatt,
Yogyakarta, Oktober lalu, yang diselenggarakan Universitas Islam
Indonesia (UII), Cholis Akbar dan Bambang Subagyo dari Suara
Hidayatullah (Sahid) menguntitnya. Wawancara dilakukan secara estafet
mulai dari kamar Hotel Ibis, kampus Fakultas Ekonomi UII, dan di mobil
dalam perjalanan menuju villa di Jalan Kaliurang Yogyakarta milik Dekan
FE UII. Berikut ini petikan wawancara yang kerap ditingkahi gelak tawa
itu.

Perbankan Syariah

Sekarang perkembangan bank syariah cukup pesat. Seberapa besar kontribusinya terhadap perekonomian nasional?

Kalau
dilihat jumlah asetnya, antara bank Islam dengan bank konvensional
bandingannya kecil sekali, kurang dari 1%. Ini hitungan dulu ketika
bank syariah baru ada Bank Muamalat Indonesia (BMI), sementara bank
konvensional jumlahnya ada 200. Tapi sekarang bank-bank konvensional
ramai-ramai membuka divisi syariah. Saya perkirakan kontribusi itu akan
terjadi lonjakan yang besar. Tidak hanya perbankan tetapi juga dalam
bidang ansuransi. Sekarang ada Takaful, Mubarakah, MAA, Beringin Putra,
dan Beringin Life. Itu semua membuat kita optimis, ke depan akan ada
lonjakan-lonjakan.

Apa dasarnya optimis?

Dasarnya ada
tiga, pertama dari segi demand atau masyarakat. Ada dua yang menonjol,
yakni tumbuhnya semangat berislam dari kalangan yang berekonomi mapan.
Karena terpengaruh oleh anak-anaknya, mereka ingin mencoba gaya hidup
lain, termasuk dalam berekonomi, yaitu ingin hidup lebih bersyariat.
Kedua, banyaknya aktivis Islam kampus tahun 80-an yang sekarang sudah
mencapai kedudukan manajer atau kepala bagian. Ketika masih mahasiswa
mereka melakukan kajian-kajian ke-Islaman, termasuk mengkaji ekonomi
Islam. Nah, sekarang mereka menginginkan produk-produk syariat yang
mereka kaji dulu.

Kedua, faktor supply. Sekarang ini ada
delapan bank syariat: dua bank secara penuh syariah dan enamnya lagi
membuka cabang syariah. Menurut survey kami bersama Bank Indonesia
masih ada 21 bank lagi yang akan buka divisi syariah, empat di
antaranya bank asing. Mengapa mereka menggebu-gebu membuka cabang
syariah?

Selain tren demand, juga bank syariah membuka
kemungkinan untuk menawarkan produk yang lebih beragam. Karena bank
syariah boleh melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan bank
konvensional. Misalnya, leasing, factoring, dan ventura, pembiayaan
kartu kredit. Tetapi memang kalau dibilang bank-bank itu niatnya untuk
membangkitkan ekonomi syariah, saya juga tidak begitu percaya.

Ketiga,
ini fenomena di seluruh dunia, tampaknya makin lama ummat Islam makin
cerdas dalam memilih lapangan jihad. Artinya begini, sekarang banyak
ummat Islam Indonesia menyadari bahwa memperjuangkan tujuh kata (Piagam
Jakarta) sekian puluh tahun ternyata tidak banyak membawa kemajuan.
Tetapi kalau kita pakai cara lain, misalnya melalui ekonomi, dengan
cara mengintegrasikan syariah ke dalam undang-undang perbankan, pada
undang-undang asuransi, atau zakat dalam perpajakan ternyata justru
lebih banyak hasilnya. Paling tidak, sedikitnya kita memberikan
kontribusi pada hukum positif yang ada di Indonesia berupa
pemikiran-pemikiran syariah.

Nah, ketiga faktor itulah yang membuat saya sangat optimis perkembangan ekonomi Islam.

Tentu,
tentu kita harus realistis. Kita sudah terlalu lama tidak bersinggungan
dengan ekonomi. Kita ahli da’wah, tapi soal ekonomi itu lain
perkaralah! Kalau soal ta’awun, kita ahli. Tapi kalau soal `aqdun
tijaari artinya dalam hal muamalah (bisnis) dan cari ribhi (untung),
kita tidak begitu ahli. Karena itu kita perlu waktu untuk menjadi ahli
dalam bidang tijaarah. Rasulullah sendiri seorang pedagang. Imam Abu
Hanifah juga seorang pedagang.

Karenanya bidang muamalah ini
harus kita geluti, kalau tidak, kita tidak akan pernah bisa ahli. Ya
awalnya agak bego-bego dikit lah. Misalnya dalam perbankan, banyak yang
komplain bahwa bagi hasil bank syariah itu kecil, sudah begitu geraknya
lambat lagi. Tapi ya itulah, karena kita belum pernah punya pengalaman
dan juga tak pernah diberi kesempatan. Jadi, seperti jalannya anak
kecil, tertatih-tatih.

Nah, sekarang persoalannya bagaimana
mempercepat proses belajar itu. Salah satu ijtihad yang kita ambil
adalah membolehkan bank-bank konvensional membuka divisi syariah.

Tapi seperti yang Anda bilang tadi, motivasi mereka mungkin semata bisnis. Bagaimana itu?

Yang
tahu niat itu hanya Allah. Kita hanya melihat dhohirnya saja. Dhohirnya
mereka membuka divisi syariah masa kita larang, seperti orang mau masuk
Islam masa kita tanya niatnya apa. Terserahlah mereka niatnya apa, yang
penting dhohirnya mereka membuka syariah. Apapun niatnya, mereka telah
membantu ummat Islam terlepas dari salah satu dosa, yaitu dosa riba.

Nanti uangnya bercampur antara yang halal dan haram?

Itu
lain persoalannya. Di Bank Indonesia sudah dibuat aturannya, misalnya
pembukuannya beda walau uangnya boleh nyampur. Orangnya juga terpisah,
dan strukturnya juga beda. Sebelum membuat aturan begitu kita melakukan
studi banding ke Malasyia dan Arab Saudi.

Di Malaysia
sistemnya satu pintu. Maksudnya, antara bank syariah dan konvensional
kantor dan orangnya jadi satu. Ibarat kita datang ke restoran mie, kita
tinggal pilih mie ayam atau mie babi. Jadi restoran dan pelayannya
sama, jadi satu. Lha Indonesia lebih mencontoh Arab Saudi. Di sana
menggunakan dua pintu. Misalnya suatu bank di Mekkah buka syariah, tapi
di Madinah bank yang sama membuka konvensional, sehingga terpisah.

Di
Malaysia perkembangan bank syariah kurang begitu oke, sebab pegawainya
tidak punya gairah menjual produk-produk syariah. Mereka pasif saja,
hanya menunggu permintaan konsumen saja. Di Arab Saudi perkembangannya
nyata, karena banknya punya motivasi. Mereka ingin cabangnya
berkembang. Nah, sekarang Malaysia meniru kita.

Orang menabung di bank yang penting uangnya aman dan mendapat untung. Bagaimana di bank syariah?

Bicara
soal ekonomi, pendekatannya memang harus ekonomi. Jadi Anda tidak usah
bicara haram dan halal. Kalau pendekatan fiqiyah seperti itu kita akan
terlibat pada perdebatan yang tak kunjung ada habisnya. Itu pula yang
terjadi pada awal-awal BMI. Tapi kemudian kita sadar, kita bukan ingin
diskusi fiqh, kita ingin bisnis. Karena itu pendekatannya jangan
fiqiyah, pendekatannya harus bisnis pula. Tapi yang kita jual dijamin
halal.

Ibaratnya, Ente mau buka restoran, tidak usah pakai
dalil. Misalnya, ayamnya dipotong pakai bismillah dan pisaunya juga
tajam. Ente tidak usah bercerita begitu. Yang penting enak, murah dan
halal lagi. Jadi halal bukan kita pakai sebagai daya tarik, tapi itu
sudah inheren setiap tindakan kita. Tidak perlu tanya halal lagi, pasti
halal.

Kesimpulannya, menurut saya, strateginya sekarang ini
bukan lagi memainkan emosi ummat yaitu ini halal dan ini haram. Bukan
begitu. Strateginya begini: Halal sudah menjadi jaminan, ditambah
memberikan keuntungan yang sama, bahkan lebih baik ketimbang bank
konvensional. Seperti Ente buka supermarket, pegawainya berjilbab,
berjenggot dan berpeci. Tapi pelayanannya memble, ya orang tidak mau
datang. Jadi, kita sekarang bukan lagi mengeksploitir fiqh sebagai alat
bersaing. Soal halal dan haram itu tidak usah ditanya lagi. Kalau kita
melakukan sesuatu sudah pasti halalnya, begitu.

Jadi yang kita
lihat aspek bisnisnya. Kalau tidak begitu nanti syariah dipakai
berlindung. Misalnya tukang jahit pakaian, berjanji pada tanggal
tertentu selesai. Tapi kenyataannya tidak selesai, alasannya malamnya
shalat tahajut. Nah, itu tidak benar. Konsumen tidak mau tahu alasan
shalat tahajud atau tidur, pokoknya selesai.

Hal-hal begitu
juga ditemukan pada bank-bank syariah. Misalnya, kadang-kadang bank
syariah memberikan bagi hasil lebih rendah dibanding bank konvensional.
Alasannya, karena memakai sistem syariah. Padahal persoalannya,
pengelola banknya saja yang kurang pintar.

Soal halal, siapa
yang menjamin, sebab sebagian orang menilai kenyataannya bank syariah
pada akhirnya hitung-hitungannya juga seperti bunga?

Saya
tidak menutup mata bahwa di bank syariah masih ada beberapa
penyimpangan-penyimpangan. Baik dari sisi manajemen maupun syariahnya.
Tetapi kalau kita tidak pernah mencoba, kita tidak tahu mana yang mesti
diperbaiki. Itulah tugas kami di Dewan Syariah Nasional (DSN). Kalau
diketahui ada penyimpangan-penyimpangan kami suruh memperbaiki.

Apakah
penyimpangan itu disengaja atau tidak? Di situ susahnya, sebab mereka
belum ngerti bahwa itu tidak boleh, bagaimana? Kata Kiai Sahal (Rois
Syuriah PBNU), itu bukan salah mereka, salah kita tidak memberi tahu
bahwa itu tidak boleh. Artinya, mereka yang bekerja di bank syariah
belum begitu paham fiqh, sebaliknya kita yang di DSN juga belum begitu
paham perbankan. Jadi, sama-sama belajarlah.

Bukan berarti
fatwanya salah, tidak. Fatwanya sudah benar, hanya saja pada tingkat
implementasinya terjadi penyimpangan-penyimpangan. Ini yang harus terus
perbaiki. Penyimpangan-penyimpangan itu, antara lain karena faktor
sumber daya manusia. Mereka yang bekerja di bank syariah kebanyakan
lulusan ekonomi atau jurusan umum lainya, lalu ditraining dua minggu
terus disuruh bekerja di bank syariah. Begitu mana bisa menjadi ahli,
paling-paling hanya bisa menghafalkan nama-nama Arab seperti
mudharabah, ijaroh dan sebagainya. Ya begitu doang. Jadi kita tidak
bisa menyalahkan bank syariahnya, karena inputnya masih begitu. Karena
itu pembenahannya harus mulai dari pendidikan.

Lahir di
Jakarta, 29 Juni l963. Ayahnya berasal dari Padang, daerah yang banyak
menghasilkan ulama-ulama terkenal. Semula ayahnya seorang jaksa, tapi
kemudian mengundurkan diri dan lebih memilih menjadi pengacara. Adi
lahir empat bersaudara, semuanya laki-laki dan sarjana hukum, kecuali
Adi sendiri yang `menyimpang’ menjadi sarjana ekonomi.

Sejak
kecil ia sudah dikenalkan dengan pendidikan agama. Tetapi ketika
remaja, Adi sempat terseret pergaulan anak-anak ibukota. Ia lebih
senang hura-hura dan disko ketimbang belajar atau ngaji. “Koleksi kaset
dan piringan hitamnya masih saya simpan sampai sekarang,” katanya.
Beruntung otaknya encer, sehingga bisa melewati jenjang sekolah
menengah dengan cukup baik.

Tetapi sikap suka hura-huranya
tetap melekat hingga ia kuliah di IPB Bogor jurusan Ekonomi Pertanian.
Akibatnya, nilainya jeblok. Sadar dengan itu, ia berusaha melepaskan
diri dari pergaulan teman-temannya yang tak terkontrol. Caranya, ia
mengambil kuliah lagi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI).
“Dengan begitu saya punya alasan untuk menolak kalau diajak kawan-kawan
pesta,” tuturnya.

Apalagi ayahnya kemudian jatuh sakit
terserang kanker hingga meninggal dunia tahun 1985. Peristiwa itu
mengingatkan Adi untuk lebih dekat lagi kepada yang Kuasa. Dan memang
Adi akhirnya lebih intens mengkaji Islam. Ia nyantri di pesantren
tasawuf Al Ihya’ di Bogor. “Dulu ke mana-mana pakai jubah,” katanya
menggambarkan keberagamaannya saat itu.

Lulus dari IPB tahun
l986, kemudian melanjutkan ke European University, Belgia, untuk
mengambil gelar MBA. Uniknya, kuliahnya di UI diselesaikan setelah
setahun ia meraih MBA. Belum puas dengan ilmu yang telah diraih, tahun
l992 Adi mengambil master di Boston University, Amerika Serikat atas
beasiswa USAID. Thesis masternya tentang Bank Islam di Iran.

Laki-laki
yang hobi membaca buku dan memelihara ayam ini mengaku, dulu ketika
berniat mendalami ekonomi Islam ia tak pernah mempertimbangkkan bahwa
ilmu yang ditekuni itu bisa memberinya masa depan yang baik. Apalagi
rezim Soeharto saat itu lagi gencar-gencarnya memberangus Islam. “Jaman
itu kita (ummat Islam) lagi dioyak-oyak,” kata Adi menggambarkan situsi
saat itu.

Tapi jaman berubah. “Kalau sekarang sih
hitung-hitungannya, kalau saya tidak menggeluti ekonomi Islam, saya
tidak sengetop ini he.. he.. benar nggak? Namun satu hal yang diyakini
pria yang tidak merokok ini, sesuatu kalau ditekuni secara serius kita
akan jadi jagoan. “Begitu sunnatullahnya,” tegasnya.

Bagaimana ceritanya sehingga Anda lebih mendalami ekonomi Islam?

Ketika
tingkat dua di IPB saya mendapat mata kuliah Manajemen Pemasaran,
dosennya Pak AM Syaifuddin. Tapi beliau memberi kuliah hanya dua kali
saja, pembukaan dan penutupan. Selebihnya yang mengajar asistennya.
Sudah masuknya hanya dua kali, ketika mengajar yang diajarkan bukan
Manajemen Pemasaran. Beliau memperkenalkan ilmu baru yang disebut
Ekonomi Islam. Ketika itu saya setengah terkejut, “Lho ada to ekonomi
Islam itu, kok saya tidak tahu.” Sejak saat itu saya mendalami lebih
intens, dengan membaca buku-buku. Saya hunting mencari buku-buku
ekonomi Islam. Pokoknya hampir semua buku tentang ekonomi Islam ludes
saya baca, walau isinya waktu itu masih sebatas ayat-ayat al-Qur’an dan
hadits (masih normatif).

Ketika menulis skripsi di IPB dengan
judul `Peranan Perbankan pada Sektor Pertanian’, di situ saya masukkan
pembahasan bunga dalam perspektif Islam. Demikian pula saat menulis
skripsi di UI. Puncaknya ketika menulis tesis untuk mengambil master di
Boston Universty. Judul tesisnya Bank Islam di Iran.

Mengapa memilih Iran?

Kawan-kawan
saya di masjid memang sempat protes, “Mengapa di Iran, nanti pikiran
Anda dipengaruhi Syiah,” katanya. Saya sempat bimbang juga. Tapi
akhirnya saya berpendapat, yang saya pelajari soal ekonomi, bukan soal
akidah dan ibadahnya. Wong kita mempelajari ekonomi Nasrani dan Yahudi
saja boleh kok. Tapi wanti-wanti kawan-kawannya itu menjadikan saya
lebih berhati-hati.

Profesor pembimbing saya sebenarnya
menginginkan saya menulis ekonomi Indonesia, tapi saya tidak mau.
Karena ekonomi Islam itu sudah menjadi cita-cita saya sejak lama.

Nah,
mengapa memilih Iran? Saya mencari negara di mana sistem ini (ekonomi
Islam) diterapkan dalam level negara. Waktu itu hanya ada dua pilihan,
yaitu Iran dan Pakistan. Setelah saya pelajari lebih jauh ternyata
Pakistan belum menerapkan ekonomi Islam secara menyeluruh. Padahal
obyek penelitiannya tidak boleh hanya satu bank, tapi harus negara
supaya dapat melihat dampaknya pada negara. Jadi pilihannya memang
hanya Iran.

Di situ saya mempelajari bagaimana Iran mengubah
sistem perbankan konvensional menjadi sistem syariah?
Tahapan-tahapannya apa saja? Ternyata dari sisi tabungan seperti
deposito dan sebagainya hanya perlu waktu satu hari, semua tabungan
berubah menjadi bagi hasil. Tapi dari sisi aset yaitu kredit dan
sebagainya itu dilakukan bertahap selama tiga tahun dan melalui tujuh
tahap.

Apa yang saya pelajari di Iran itu menjadi sangat
berguna buat saya sekarang. Dengan ilmu yang saya miliki itu, saya
menjadi mudah memberikan konsultasi kepada bank-bank konvensional yang
ingin mengkonversi menjadi bank syariah.

Artinya, dalam penerapan ekonomi Islam di Indonesia Anda cenderung terpengaruh oleh Iran?

Nggak,
nggak… jangan gitu. Saya ini tetap ahlu sunnah wal jama’ah lah
hahaha… Iran pada jaman Shah itu sekuler, sama seperti di Indonesia
pada jaman Soeharto, tapi dalam waktu yang singkat mereka mampu
mengubah sistem perbankannya dari konvensional menjadi sistem syariah.
Itu yang saya pelajari.

Soal pendekatan saya terpengaruh oleh
pendekatan interplyty. Pendekatan ini melarang kita melakukan
islamisasi ekonomi dengan cara mengambil ekonomi Barat lalu dicari ayat
al-Quran dan haditsnya. Ini tidak benar, karena itu memaksakan
al-Qur’an dan hadits cocok dengan pikiran manusia. Ekonomi Islam bukan
ekonomi konvensional lalu ditempeli al-Quran dan hadits.

Saya
juga terpengaruh oleh Ikhwanul Muslimin dalam hal bagaimana suatu ide
bisa bergulir. Ekonomi Islam di Indonesia, kalau tidak pakai ilmu
haraqah belum begini perkembangannya. Jadi, kita buat haraqah al
iqtisoqi al islami indonesiya (gerakan ekonomi Islam Indonesia). Dengan
pendekatan haraqah masing-masing sel bergerak. Dan menurut saya ini
ditanggapi secara baik oleh kawan-kawan di haraqah, sebab mereka juga
menuju pada suatu tempat yang sama. Salah satu komponen dari tempat
bersama itu adalah terwujudnya ekonomi syariah.

Ngomong-ngomong Anda masih punya rekening di bank konvensional?

Tidak.
Ketika di Amerika terpaksa membuka rekening di bank. Itu pun saya pilih
yang tidak pakai bunga. Malah rekening saya dipotong 8 dollar tiap
bulan. Ya hitung-hitung itu latihan. Di kantor saya punya credit card,
tapi tak pernah dipakai. Terpakai kalau masuk hotel, sekedar saya
tunjukkan sebagai jaminan. Tapi saat check out saya bayar pakai uang
kontan. Terpaksa membawa credit card, karena saya punya pengalaman
ditolak hotel di Malaysia lantaran tidak punya credit card sebagai
jaminan.

Jadi, antara perkataan dengan perbuatan harus
sejalan. Bila tidak, kata-kata kita tidak punya kekuatan. Rekening saya
ada di BNI Syariah, BMI, dan Syariah Mandiri. Pernah sekali terpaksa
membuka rekening di BCA. Gara-garanya saya jual mobil, pembelinya
membayar lewat transfer BCA. Begitu tranfer masuk, rekening itu saya
tutup lagi.

Ekonomi Syariah/Syariah

Langkah-langkah apa saja untuk mempercepat terwujudnya ekonomi Islam?

Harus
ada tahapan-tahapannya. Soal dinar yang Ente tulis itu misalnya (Sahid
edisi Oktober 2002), saya sebenarnya sangat ngerem-ngerem. Apa benar
dinar itu punyanya Islam? Wong dinar itu milik orang kafir yang dipakai
alat oleh Rasul. Jujur saja, semangatnya asal jangan pakai dolar, kan
gitu? Ente dipermainin sama dolar lalu keki.

Marilah kita
pikir lebih tenang, kita susun langkahnya dengan rapi. Ibaratnya,
tahapannya begini, kalau kondisinya masih di darul arqom, Ente jangan
perang Badr. Seperti sekarang, sebagian ulama kita bersikeras
mengeluarkan fatwa bunga bank itu haram. Bahwa bunga bank itu haram
kita sudah tahu. Persoalannya, bila fatwa itu kita munculkan sekarang,
ya hitung-hitung dulu. Berapa orang Islam yang akan mengikuti fatwa
itu? Jangan-jangan kita dilecehkan oleh ummat kita sendiri, karena
fatwanya tidak ada yang mau mendengar.

Bank syariah di
Indonesia itu cuma satu persennya saja belum ada, kok mengeluarkan
fatwa. Sabar dulu, nanti kalau sudah ada 10% baru keluarin fatwa.
Perang Badr itu perbandingan orang mukmin dengan orang kafir 300:1000.
Jadi harus ada minimum requirement (persyaratan minimal). Fiqh itu
tidak hanya fiqh syar’iyyah saja. Masih ada fiqh berikutnya seperti
fiqh maslahah, dan fiqhul waqi’ (fiqh realitas). Jadi
hitung-hitungannya jelas.

Kalau orang kita suruh pakai dinar
dan emas lalu tidak boleh pakai rupiah di saat seperti ini, akan
menjadi apa? Yang senang orang Singapura lah. Habis emas kita ditukar
kertas bergambar Lee Kwan Yew. Betul akan ada masa dinar dan emas, tapi
harus ada tahap-tahap yang baik.

Ada ungkapan menarik, “Li
kulli maqamin, maqaalun. Wa likulli maqaalin, maqaamun”. (Setiap
kondisi butuh ungkapan yang tepat. Dan setiap ungkapan, butuh waktu
yang tepat pula). Contohnya BMT (Baitul Maal Wattamwil), itu ide
brilyan. Saya pernah diundang ke Chicago AS hanya untuk menerangkan
BMT. Tapi menurut saya terlalu cepat diangkat menjadi gerakan nasional.
Pak Harto pernah mencanangkan “Gerakan 1000 BMT”. Ya kacau. Tidak bisa
semua orang disuruh hijrah ke Madinah tiba-tiba, begitu perumpamaannya.
Biarkan orang terseleksi dari tingkat keimanannya. Jadi BMT itu
konsepnya bagus tapi belum siap diangkat menjadi gerakan Nasional.

Jadi, langkah-langkahnya apa saja?

Menurut
saya ada tiga tahap. Di antaranya kita harus masuk ke kampus. Kalau
tidak bisa masuk ke kurikulum, minimal lewat mahasiswa. Biar mereka
yang meminta dibuka studi ekonomi Islam dan pihak universitas mau tidak
mau akan menyediakan mata kuliah ekonomi Islam. Ini yang sudah
berkembang di beberapa tempat.

Kedua, pengembangan sistem. Ini
bisa lewat undang-undang, atau peraturan daerah. Kalau mereka masih
Islamophobia, tak suka pakai al-Qur’an dan hadist, okey ayat kita
simpan dalam hati. Yang penting maqosid-nya (tujuan) sampai. Kalau
perlu kita pakai bahasa Inggris biar dia happy (senang). Makan tuh
bahasa Inggris, yang penting pesannya sampai he.. he…

Yang
terakhir pengembangan ekonomi ummat. Ini sangat berat, tidak bisa hanya
banyak omong. Mesti terjun ke lapangan. Apa artinya kita buat
undang-undang dan peraturan, kalau kita sendiri tidak menekuninya.
Ekonomi Islam itu tidak sekedar riba, melainkan bagaimana kita jualan,
tidak curang tapi untung. “Lebih baik untung sedikit tapi barokah” itu
tidak ada dalam Islam. Islam itu harus untung besar dan barokah.

Menurut Anda, sejauh mana pemerintah memberi dorongan terhadap pengembangan ekonomi Islam?

Pemerintah
itu siapa sih? Kalau pemerintah itu dipersonifikasikan satu sampai dua
orang, apa benar itu namanya pemerintah? Oleh karena itu, kita harus
merespon secara keseluruhan. Sebab bagian terbesar dari pemerintahan
itu juga orang Muslim. Kita cenderung menempatkan pemerintah di suatu
tempat, dan ummat Islam di tempat lain. Lha wong kenyataannya
pemerintah itu juga ummat Islam. Kalau kita menempatkan di dua kutub
berbeda, ini namanya mengulang-ulang kesalahan di tempat yang sama.
Kita selalu dibenturkan, seolah oposan sama pemerintah. Enggak! Kita
mau damai-damai saja dengan pemerintah.

Persoalannya, mampukah
kita meng- influence (mempengaruhi) orang-orang yang ada di
pemerintahan yang jumlahnya sangat banyak itu. Untuk apa? Untuk membuat
kebijakan-kebijakan yang lebih Islami. Kalau Anda tanyakan good will,
buktinya pemerintah mengeluarkan undang-undang perbankan yang di
dalamnya ada kata-kata mudharabah, murabakhah. Pemerintah itu orang
yang juga memiliki hati. Bahkan sebagian di antaranya orang Islam juga.
Karena itulah tugas kita, ballighuu annii walaw aayah (sampaikan da’wah
walau hanya satu ayat), termasuk kepada orang-orang yang menduduki
jabatan pemerintah. Buktinya rezim berganti-ganti undang-undang
perbankan syariah tidak ikut ganti. Presiden ganti, tapi team pengkaji
perbankan syariah di Bank Indonesia (BI) malah makin besar jumlahnya.

Peci, Jenggot dan BMI

Penampilannya
layaknya seorang ustadz ketimbang seorang konsultan perbankan papan
atas, khususnya perbankan Islam. Berbaju koko, berpeci dan berjenggot
lebat, begitulah “seragam” Adi ke mana pun pergi. Khususnya peci dan
jenggot, itu punya riwayat tersendiri.

Jenggot, katanya, itu
oleh-oleh ketika studi di Amerika. Di negeri Paman Sam itu, laki-laki
yang gemar memelihara burung dan ayam ini tinggal bersama kawannya dari
Pakistan dan Aljazair. Mereka rata-rata berjenggot, karena itu sering
meledek Adi, “Eh, laki-laki kok tidak punya jenggot.” Diledek begitu
akhirnya risih juga telinganya. “Akhirnya saya panjangkan juga,”
katanya.

Tetapi siapa sangka, ketika bekerja di BMI jenggot
itu malah bikin “masalah”. Ia pernah diminta mencukur jenggotnya, tapi
ia menolak. Selesai?

Belum. Bahkan direkturnya sempat
`menggugat’, “Memangnya ada ketentuan jenggot itu mesti sepanjang apa?”
Adi kelabakan. Lazimnya, seorang bankir memang tampil rapi dan klimis.
Lha Adi? Jenggotnya dibiarkan terurai panjang. Untung di BMI ada teman
saya dari Jamaah Tabligh. “Katanya ada, yaitu Umar (bin Khaththab) itu
jenggotnya sepanjang dua pegangan tangan,”. Jadilah Adi mengikuti
usulan temannya yang mengutip kitab Fadhail Amal. Namun ketika yang
protes itu ibu-ibu, Adi tidak berkutik. “Eh, bagus ya jenggotnya Pak
Adi, lebat. Tapi bukankah dalam Islam dianjurkan rapi?” kata ibu-ibu di
sekitar rumah Adi di komplek Nurul Fikri kepada istrinya. “Oke, oke…
saya rapikan,” kali ini Adi benar-benar takluk.

Lain lagi
kisah peci yang selalu bertengger di kepala Adi itu. Ceritanya, ia
diminta BMI membawa rombongan beberapa kiai pondok pesantren studi
banding ke Jepang. Tiba-tiba salah seorang kiai asal Sukabumi nyletuk,
“Anda ini sudah pas. Tapi satu yang kurang, peci!” Dosen tamu di IAIN
Syarif Hidayatullah Jakarta ini lalu menukas, “Itu tidak sunnah, Pak
Kiai.” “Memang bukan. Itu muru’ah (kehormatan),” kata kiai itu. Sejak
saat itulah Adi selalu lengket dengan peci. “Jadi ini oleh-oleh dari
Jepang,” ujarnya.

Namun sesungguhnya bukan tanpa maksud Adi
tampil seperti ustadz itu. “Ini sebagai kontrol sosial buat saya, sebab
namanya iman itu naik turun,” jelasnya. “Contohnya, kalau berpakaian
begini saya kan malu pergi ke disko atau minum bir.”

Karir Adi
di BMI terbilang cemerlang, setelah sebelumnya bekerja di Bappenas.
Masuk tahun l992 karir awalnya di BMI sebagai staf Litbang. Enam tahun
kemudian ia dipercaya untuk memimpin BMI cabang Jawa Barat. Jabatan
terakhirnya di pionir bank syariah itu Wakil Presiden Direktur. “Itu
sudah mentok untuk jabatan karir. Sebab, jabatan Presiden Direktur
lebih bersifat politis,” katanya.

Tapi bukan karena itu kalau
kemudian ia memutuskan keluar dari BMI (2000). Ada kepentingan yang
lebih besar lagi yang ingin ia capai. “Kalau tetap di BMI, saya tidak
bisa mengerjakan untuk orang lain,” katanya. Maksud orang lain itu
adalah bank-bank konvensional yang membuka syariah. Nyatanya memang,
sekarang ada beberapa bank syariah yang memanfaatkan kemampuan Adi.

Diakui
Adi, memutuskan keluar dari BMI bukan perkara gampang. Soalnya, bekerja
di bank syariah itu sudah diidam-idamkan Adi sejak mahasiswa. Kebetulan
bank syariah yang ada kala itu baru BMI. Setelah melakukan shalat
istikharah selama 6 bulan, Adi baru bulat meninggalkan BMI.

Dengan
modal Rp 40 juta Adi kemudian mendirikan perusahaan konsultan. Beberapa
kawan yang diajak bergabung awalnya pesimis, sebab siapa yang bakal
pakai jasa mereka. Jumlah bank syariah saat itu baru dua. Tapi seiring
munculnya bank-bank syariah baru seperti sekarang, Adi kemudian
kebanjiran job. Setidaknya, ia kini mampu menghidupi 15 karyawan.

Menikah
dengan Rustika Thamrin (35), sarjana Psikologi UI, pada usia 25 tahun,
kini Adi sudah dikaruniai tiga orang anak: Abd. Barri Karim (12),
Azizah Mutia Karim (11), dan Abd. Hafidz Karim (6). “Saya ingin
anak-anak saya menjadi mujahid,” begitulah harapan Adi kepada buah
hatinya. Semoga!•
(Bas dan Cha

By solah683

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s